Bahasa Sula
Bahasa Sula (dikenal oleh penutur aslinya sebagai Li Sua atau Bahasa Sanana) adalah sebuah bahasa daerah dalam rumpun bahasa Austronesia, khususnya tergolong ke dalam cabang Melayu-Polinesia Tengah (subkelompok Sula–Buru).[4] Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat pribumi suku Sula dan suku Mangole yang mendiami wilayah Kabupaten Kepulauan Sula, terutama terpusat di Pulau Sulabesi dan pesisir Pulau Mangole, Provinsi Maluku Utara, Indonesia.[5]
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Sula berdampingan dengan bahasa Melayu Sula (ragam Melayu pasar/kreol lokal yang dipengaruhi oleh Melayu Ternate dan Melayu Ambon), serta bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi pemerintahan dan pendidikan.[6]
Klasifikasi dan kekerabatan
[sunting | sunting sumber]Secara filogenetis, bahasa Sula memiliki hubungan kekerabatan terdekat dengan bahasa Buru di Pulau Buru, membentuk subkelompok Sula–Buru dalam cabang bahasa Maluku Tengah.[4] Hubungan ini diperkuat oleh sejumlah kesamaan leksikal dasar dan retensi fitur fonologis Austronesia purba (Proto-Austronesian). Bahasa Sula juga berbatasan secara geografis dengan bahasa Taliabu (Soboyo) di sebelah barat, serta menyerap banyak kata pinjaman dari bahasa Ternate akibat hegemoni politik dan perniagaan berabad-abad di bawah pengaruh Kesultanan Ternate.[5]
Dialek dan persebaran wilayah
[sunting | sunting sumber]
Bahasa Sula terbagi ke dalam empat variasi dialek geografis utama yang saling berinteligibilitas tinggi (mutually intelligible):[7][5]
- Dialek Fagudu: Dituturkan di bagian selatan Pulau Sulabesi (termasuk wilayah Sanana dan sekitarnya). Dialek ini secara historis memiliki jumlah penutur terbanyak dan sering dipandang sebagai ragam prestise dalam tatanan adat Soa Fagudu.
- Dialek Falahu (atau Faahu): Dituturkan di pesisir utara Pulau Sulabesi. Dialek ini memiliki kekhasan peluluhan konsonan tertentu di antara vokal.
- Dialek Fatcei (atau Facei): Dituturkan di pesisir barat Pulau Sulabesi oleh warga persekutuan Soa Fatcei.
- Dialek Mangoli (atau dialek Mangon): Dituturkan di sepanjang pesisir Pulau Mangole, khususnya di perkampungan yang memiliki pertalian adat dengan sembilan marga Umasoa Gatasia di Desa Mangoli serta wilayah pesisir lainnya.[5] Sebagian linguis awal sempat menggolongkannya sebagai bahasa tersendiri (Mangole language), namun penelitian dialektologi terkini membuktikan bahwa variasi ini merupakan kesinambungan dialek (dialect chain) dari bahasa Sula.[5]
Fonologi
[sunting | sunting sumber]Sistem bunyi bahasa Sula tergolong tipikal bagi bahasa-bahasa Austronesia di kawasan Maluku Tengah:
Konsonan
[sunting | sunting sumber]| Bibir | Rongga-gigi | Langit-langit | Lang-bel. | Celah-suara | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Letup/ Gesek |
nirsuara | p | t | tʃ | k | ʔ |
| bersuara | b | d | dʒ | ɡ | ||
| Sengau | m | n | ŋ | |||
| Geser | f | s | (ʃ) | h | ||
| Getar | r | |||||
| Sisian | l | |||||
| Hampiran | w | j | ||||
Konsonan hambat bersuara /b, d, ɡ/ di posisi koda (akhir kata) umumnya direalisasikan sebagai bunyi letup nirsuara yang tidak diletupkan secara lepas (unreleased stop). Fonem /ʃ/ umumnya muncul pada kosakata serapan dari bahasa Arab atau Melayu.[5]
Vokal
[sunting | sunting sumber]Bahasa Sula memiliki lima fonem vokal kardinal:
| Depan | Madya | Belakang | |
|---|---|---|---|
| Tertutup | i | u | |
| Tengah | e | o | |
| Terbuka | a |
Vokal madya /e/ dan /o/ memiliki alofon terbuka [ɛ] dan [ɔ] pada posisi suku kata tertutup.[5]
Kosakata dasar
[sunting | sunting sumber]Sistem bilangan (Angka)
[sunting | sunting sumber]Sistem pembilangan dalam bahasa Sula menunjukkan retensi angka Austronesia purba dengan awalan morfologis pembilang:
| Nilai Angka | Bahasa Sula (Li Sua) | Catatan Morfologis & Kultural |
|---|---|---|
| 1 | hia | Berakar dari Austronesia purba esa / isa. |
| 2 | gadua (atau dua) | Dari akar kata dua (duwa). |
| 3 | gatelia (atau teli) | Dari akar kata telu (telu). |
| 4 | gahata (atau hata) | Dari akar kata empat (epat). |
| 5 | galima (atau lima) | Dari akar kata lima (lima / tangan). |
| 6 | gane | Dari akar kata enam (enem). |
| 7 | gagao | Dari akar kata pitu (pitu). |
| 8 | gataha | Dari akar kata walu (walu). |
| 9 | gatasia | Akar kata sembilan (siwa), yang mendasari nama pranata adat Umasoa Gatasia di Desa Mangoli.[5] |
| 10 | pohia | Puluhan pertama (akar kata sa-pulu). |
| 20 | podua | Dua puluhan. |
| 100 | utuna hia | Seratus (akar kata ratus). |
| 1.000 | riana hia | Seribu (akar kata ribu). |
Pronomina persona (Kata ganti orang)
[sunting | sunting sumber]Sistem kata ganti orang bahasa Sula membedakan bentuk inklusif dan eksklusif pada orang pertama jamak:
| Kategori Persona | Bahasa Sula (Li Sua) | Padanan Bahasa Indonesia |
|---|---|---|
| Pertama Tunggal | aku | saya, aku |
| Kedua Tunggal | gau | kamu, engkau |
| Ketiga Tunggal | nini (atau i) | dia, beliau |
| Pertama Jamak (Inklusif) | kita | kita (termasuk lawan bicara) |
| Pertama Jamak (Eksklusif) | kami | kami (tidak termasuk lawan bicara) |
| Kedua Jamak | kimu | kalian |
| Ketiga Jamak | man | mereka |
Kosakata alam dan lingkungan (Swadesh)
[sunting | sunting sumber]- Air: wai
- Api: hapa
- Rumah: uma
- Ikan: fan
- Ayam: manu
- Kayu / Pohon: kau
- Manusia / Orang: matapia
- Batu: fatu
- Kepala: nan
- Mata: mata
- Laut: masi
- Darat / Gunung: le
Tata bahasa dan sintaksis
[sunting | sunting sumber]Susunan klausa dasar (SVO)
[sunting | sunting sumber]Bahasa Sula menganut tipologi urutan kata dasar Subjek – Verba – Objek (SVO):
- Aku fani kau. $\rightarrow$ Aku (S) melihat (V) pohon (O).
- Nini kosa wai. $\rightarrow$ Dia (S) mengambil/menimba (V) air (O).
Sistem deiksis ruang bahari (Spatial Directionals)
[sunting | sunting sumber]Sebagaimana lazimnya pada masyarakat kepulauan Austronesia, orientasi ruang bahasa Sula tidak bertumpu pada arah mata angin absolut barat-timur semata, melainkan mengacu pada sumbu tegak lurus antara garis pantai dan perbukitan pedalaman:[5]
- lai (ke arah darat / pedalaman / gunung): Merujuk pada pergerakan menjauhi pesisir menuju perbukitan.
- lau (ke arah laut / pantai): Merujuk pada pergerakan menuju bibir pantai atau laut lepas.
- pari (ke arah atas / naik): Arah ke hulu sungai atau ke arah utara pesisir.
- poka (ke arah bawah / turun): Arah ke hilir muara atau ke arah selatan pesisir.
Pembentukan kata dan morfologi klan
[sunting | sunting sumber]Bahasa Sula kaya akan pembentukan istilah kekerabatan berbasis morfem leksikal:
- Prefiks Uma- (rumah / matarumah): Digunakan untuk membentuk nama klan atau rumah adat keluarga patrilineal, seperti pada fam Umagapi, Umasugi, Umasangadji, Umawaitina.
- Sufiks -pon dan -mona: Berfungsi sebagai penanda asal pemukiman atau bentang tanah adat, seperti pada fam Aupon, Banapon, Fatcepon, Buamona, Bilmona.
Status vitalitas dan pelestarian
[sunting | sunting sumber]Menurut kriteria vitalitas bahasa UNESCO dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, bahasa Sula berada dalam status rentan hingga terancam punah (vulnerable / endangered).[8] Tekanan ini terutama dipicu oleh peralihan pemakaian bahasa sehari-hari di kalangan generasi muda ke arah dialek Melayu Sula dan bahasa Indonesia baku di wilayah perkotaan seperti Sanana.
Guna mencegah kepunahan, Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara sejak tahun 2022 giat menyelenggarakan program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) berbasis sekolah dan komunitas adat. Program ini mencakup penyusunan materi ajar muatan lokal, lomba penulisan cerita pendek, pembacaan puisi adat (sastra tutur), serta penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat kabupaten dan provinsi.[8]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
- ↑ "Bahasa Sula". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
- 1 2 Collins, James T. (1983). The Historical Relationships of the Languages of Central Maluku. Pacific Linguistics Special Number D-47 (dalam bahasa Inggris). Canberra: The Australian National University.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bloyd, Tobias S. (2020). Sula: Its language, land, and people (dalam bahasa Inggris). University of Hawai'i at Mānoa.
- ↑ Duwila, Ety (2009). "Kajian dialektologi diakronis enklave Melayu Bacan, Ternate, dan Sula di Provinsi Maluku Utara". Tesis S2 Linguistik. Yogyakarta, Indonesia: Universitas Gadjah Mada.
- ↑ Duwila, Ety (2018). "Variasi Dialek Bahasa Sula di Kepulauan Sula". Jurnal Kebudayaan Maluku Utara. 6 (2): 112–128.
- 1 2 "Katalog Bahasa Daerah di Maluku Utara". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek. 2022.
Bacaan lebih lanjut
[sunting | sunting sumber]- Bloyd, Tobias S. (2020). Sula: Its Language, Land, and People (PhD tesis) (dalam bahasa Inggris). University of Hawai'i at Manoa. hdl:10125/69017.
- Collins, James T. (1983). The Historical Relationships of the Languages of Central Maluku. Pacific Linguistics Special Number D-47 (dalam bahasa Inggris). Canberra: The Australian National University.
- Duwila, Ety (2009). "Kajian dialektologi diakronis enklave Melayu Bacan, Ternate, dan Sula di Provinsi Maluku Utara". Tesis S2 Linguistik. Universitas Gadjah Mada.
- van Hulstijn, P. (1918). Memorie over de Soela-eilanden. Mededeelingen van het Encyclopaedisch Bureau, Aflevering XV (dalam bahasa Belanda). Weltevreden: Boekhandel Visser & Co.
